Topik 5 : Mikroskill serta Tahapan-Tahapan dalam Konseling & Psikoterapi
Mikroskill serta
Tahapan-Tahapan
dalam Konseling
& Psikoterapi
Halo semuanya, setelah sebelumnya membahas tentang
Tipe-Tipe Konseling & Psikoterapi, kali ini saya akan membahas Mikroskill
serta Tahapan-Tahapan dalam Konseling & Psikoterapi. Mari kita simak
berikut ini.
A.
Mikroskill
Apa
itu mikroskill ? mikroskill atau keterampilan mikro dalam
konseling ialah elemen-elemen kecil dari seorang konselor (Kathryan Geldard
& David Geldard, 2011: 45). Mikroskill tersebut ialah cara memberikan
penguasaan teknik-teknik konseling tunggal kepada calon konselor. Nah
keterampilan dalam konseling yang paling penting ialah mendengarkan klien
dengan penuh perhatian.
Lalu
apa saja keterampilan-keterampilan itu ?
1.
Keterampilan
Attending
Attending
merupakan suatu sikap atau perilaku yang di tunjukkan oleh seorang konselor
kepada klien yang didalamnya memberikan perhatian secara penuh dalam proses
konseling. Perilaku attending yang ditampilkan konselor akan mempengaruhi
kepribadian klien yaitu:
-
Meningkatkan
harga diri klien, sebab sikap dan perilaku atteding memungkinkan konselor
menghargai klien, karena klien merasa dihargai maka merasa harga diri ada atau
meningkat.
-
Dengan perilaku
attending dapat menciptakan suasana aman bagi klien, karena klien merasa ada
orang yang bisa dipercayai, teman untuk berbicara dan merasa terlindungi secara
emosional.
-
Perilaku
attending memberikan keyakinan kepada klien bahwa konselor adalah tempat dia
mudah untuk mencurahkan segala isi hati dan perasaannya.
Karena, dengan perilaku attending, klien
akan merasa dihargai oleh konselor dan klien percaya pada konselor sehingga,
klien nyaman dalam menceritakan isi perasannya. Keterampilan attending ini
meliputi:
-
Posisi dan jarak
duduk
-
Posisi badan,
isyarat gerak tubuh dan ekspresi wajah
-
Kontak mata
-
Penggunaan suara
yang bervolume dan kejelasan, intonasi, nada suara
-
Mendengarkan
2.
Keterampilan
Membuka Percakapan
Pada
keterampilan ini berperan di awal wawancara yaitu mempersilahkan klien untuk
berbicara seleluasa mungkin untuk mengutarakan masalahnya kepada konselor. Saat
proses konseling berlangsung, konselor harus memperhatikan penggunaan bahasa,
gunakanlah bahasa yang sesuai dengan taraf perkembangan intelektual dan
perasaan klien. Hindarkan pertanyaan-pertanyaan tertutup ataupun pertanyaan
“mengapa”, karena pertanyaan semacam ini akan menyulitkan klien jika tidak tahu
alasannya. Klien akan merasa mendapat kesempatan untuk mengungkapkan
pembicaraan terbuka bila dimulai dengan : bagaimana, apa, dapatkah…… untuk
lebih menimbulkan dorongan klien perlu disertai atending yang baik secara
verbal (ungkapan dan ucapan singkat) dan secara non verbal (kontak mata, gerak
tangan, anggukan).
3.
Keterampilan
Membuat Parahrasing
Paraphrasing
adalah menangkap pesan utama yang disampaikan klien kepada konselor dalam
proses konseling, dengan cara mendengarkan secara cermat dan kemudian mengulang
kembali inti dari perkataan klien dengan kata – kata konselor sendiri. Dan
parafrase akan berjalan dengan sendirinya mengikuti aliran pemikiranya.
Beberapa
tujuan digunakannya parafrase yang akan mempengaruhi klien menurut Retno Tri Hariastuti
(2007 : 41), yaitu :
-
Menyatakan pada
klien bahwa konselor memahami pembicaraan.
-
Mendorong klien
untuk mengungkapakan idea tau pikiran – pikirannya.
-
Membantu klien
memusatkan pembicaraan pada situasi, kejadian, idea tau tingkah laku tertentu.
-
Membantu klien
yang membutuhkan kesimpulan.
-
Untuk lebih
menekankan isi pesan dibandingkan afeksi.
4.
Keterampilan
Mengidentifikasi Perasaan
Mengidentifikasi
perasaan adalah suatu kemampuan konselor untuk mencari tahu atau menggali
tentang apa yang dirasakan klien. Bagaimana perasaan klien, dan konselor
membantu klien dalam menjelaskan perasaanya yang mencerminkan psikis klien. keterampilan
ini berguna sekali dalam hal konselor membantu klien dalam menjelaskan perasaan
– perasaanya, yang mencerminkan dinamika psikis dan masalah itu sendiri. Bila
klien mampu memahami benar – benar tentang hal yang berkaitan dengan
perasaanya, maka akan banyak membantu klien dalam memecahkan masalahnya. Disamping
konselor di tuntut untuk memiliki kemampuan untuk dapat memahami perasan klien
dan harus mampu mengidentifikasikan dan mengekspresikan perasaanya sendiri
dengan begitu akan terjalin komunikasi perasaan yang efektif dan harmonis.
Kesulitan
utama dalam melakukan identifikasi perasaan ini menurut Sukiman (1991 : 63)
ialah :
-
Suatu ekspresi
perasaan yang sama, dapat mencerminkan makna yang berbeda – beda.
-
Suatu makna
perasaan tertentu dapat dinyatakan dengan berbagai cara. Untuk itu seorang
konselor perlu banyak pengetahuan dan pengalaman yang berkaitan dengan ekspresi
perasaan dapat di kenal melalui :
-
Perubahan
somatis (pernyataan non verbal) seperti : muka merah keringat yang berlebihan,
menangis, pandangan tak menentu, melihat satu arah, menggigit jari, selalu
menunduk.
-
Pernyataan
verbal (deskripsi verbal) yang dapat berupa : pemakaian kiasan.
5.
Keterampilan
Merefleksi Perasaan
Merefleksikan
perasaan adalah cara yang bermanfaat untuk membantu pelepasan beban emosional
dengan efek penyembuhan. Ketika kita merefleksikan perasaan kita menunjukkan
pada klien bahwa kita berempati dan memahami apa yang mereka rasakan. Hal
tersebut dilakukan dengan cara memperlakukan klien dengan sepenuh hati yaitu
mendengarkan, memperhatikan, empati dan lebih menekankan pada perasaan atau
emosional klien agar klien mau terbuka dalam mengekspresikan perasaannya. Beberapa
tujuan refleksi perasaan yaitu :
-
Membantu klien
memahami perasaanya.
-
Mendorong klien
agar lebih banyak mengekspresikan perasaanya, baik positif maupun negative,
tentang situasi, orang atau hal – hal khusus lainnya.
-
Membantu klien
menata atau mengatur perasaan – perasaanya.
-
Memberitahukan
pada klien bahwa konselor memahami perasaan klien yang tidak suka atau marah
kepada konselor, sehingga perasaan tersebut berkurang.
-
Membantu klien
membedakan intensitas berbagai perasaan yang ada dalam dirinya.
6.
Keterampilan
Konfrontasi
Konfrontasi
merupakan suatu teknik yang berguna untuk menumbuhkan kesadaran klien dengan
memberinya informasi yang mungkin terlewatkan atau tidak teridentifikasi
olehnya. Meski informasi itu terkadang tidak menyenangkan bagi klien. Kathryan
Geldard & David Geldard (2011 :202) konfrontasi adalah menyadarkan klien
dengan memberikan informasi yang :
-
Mungkin tidak
menyenangkan bagi klien,
-
Mungkin di
abaikan dari perhatian klien, tetapa harus di perhatikan oleh klien, jika ingin
mengoptimalkan manfaat dari konseling.
Terkadang klien tidak konsisten dalam
kata dan perbuatannya, atau dengan bahasa umum tidak konsisten antara aspek
verbal dengan non verbal. Atau terjadi perbedaan antara ucapan pertama dengan
berikutnya dalam hal yang sama. Untuk mengatasi hal ini, konselor harus
menguasai teknik konfrontasi agar klien dibantu supaya kembali konsisten,
mungkin diskrepansi itu disebabkan karena kelupaan, kesengajaan, atau karena
faktor emosional.
7.
Keterampilan
Membuat Ringkasan (Merangkum)
Merangkum
adalah merefleksikan inti dari percakapan. Rangkuman berfungsi mengumpulkan
poin-poin penting dari isi pembicaraan, serta melibatkan perasaan-perasaan yang
telah di utarakan klien (Kathryan Geldard & David Geldard, 2011 : 133). Keterampilan
meringkas pembicaraan ini banyak bergantung pada keterampilan parafrase dan refleksi
perasaan. Tujuan dari meringkas adalah supaya klien merasa ada kemampuan dalam
mengadakan eksplorasi tentang ide dan perasaan, dan juga menyadari adanya
kemajuan dalam belajar dan memecahkan masalah. Bagi konselor meringkas
berfungsi sebagai bukti yang efektif tentang ketepatan pengamatan konselor.
B.
Tahapan-Tahapan Konseling & Psikoterapi
Selanjutnya
saya akan menguraikan tahapan-tahapan dalam konseling & psikoterapi. Nah
menurut Brammer dan Shostrom (1082:99), proses konseling dan psikoterapi terdapat
tujuh tahapan, yakni sebagai berikut :
1.
Tahap 1 :
Membangkitkan Minat dan Membahas Perlunya Bantuan pada Diri Klien
Pada
tahap ini yang perlu diperhatikan yakni :
-
Memungkinkan
klien mengemukakan masalahnya. Dalam hal ini supaya membuat klien menyatakan
keseriusan bahwa ia peduli terhadap masalahnya, serta ingin mengungkapkan
masalah penderitaan atau alasan kedatangannya.
-
Mengetahui
sejauh mana klien menyadari perlunya bantuan dan menyiapkan dirinya dalam
proses konseling.
Strategi yang dapat digunakan oleh konselor maupun
terapis dalam tahap ini adalah :
-
Menyambut dan
menerima klien secara hangat
-
Membantu klien
menjelaskan inti masalah yang dialaminya
2.
Tahap 2 :
Membina Hubungan
Tujuan
dari tahap ini ialah membangun suatu hubungan yang ditandai oleh adanya
kepercayaan klien atas dasar kejujuran dan keterbukaan. Menurut peneliti, suksesnya
konseling ditentukan oleh :
-
Keahlian
-
Kemenarikan
-
Layak untuk
dipercayai
3.
Tahap 3 :
Menetapkan Tujuan Konseling dan Menjelajahi Berbagai Alternative yang Ada
Pada
tahap ini tujuan utamanya adalah membahas bersama klien apa yang diinginkannya
dalam proses tersebut. klien diajak untuk merumuskan tujuan berkaitan dengan
permasalahannya. Disini klien dajak mendiskusikan apa saja yang hendaknya ia
lakukan dalam konseling sehingga dapat mewujudkan tujuannya tersebut, kemudian
membahas alternatif-alternatif yang dapat ditempuh dalam proses dimaksud. Klien
juga diajak mendiskusikan prosedur yang akan digunakan untuk mencapai hasil dan
bernegosiasi tentang beberapa kesepakatan kerja.
4.
Tahap 4 : Bekerja
dengan Masalah dan Tujuan
Dalam
tahap ini tujuan dan strategi konseling ialah ditentukan oleh masalah klien,
pendekatan dan teori yg digunakan konselor maupun terapis, keinginan klien dan
gaya komunikasi yang dibangun oleh keduanya. Pada step ini seringkali memerlukan
ekspresi perasaan lebih apabila klien mengalami kebingungan atau penderitaan,
juga seringkali diperlukan klarifikasi lebih jauh dalam kasus apapun karena
masalah yang ditimbulkan dapat berubah-ubah sejalan dengan diskusi.
5.
Tahap 5 :
Membangkitkan Kesadaran Klien untuk Berubah
Pada
tahap kelima ini hal yang penting ialah konselor ataupun terapis mulai bekerja
dari pembahasan perasaan sampai memiliki kesadaran, hal ini bertujuan untuk
menjadikan klien memperoleh kesadaran yang dibutuhkan dalam mencapai tujuan
mereka selama mengikuti proses konseling maupun psikoterapi.
6.
Tahap 6 : Perencanaan
kegiatan atau tindakan
Dalam
tahap keenam ini tujuannya adalah membantu klien untuk menempatkan ide-ide dan
kesadaran baru yang ditemukan ke dalam tindakan kehidupan sesungguhnya dalam
rangka mengaktualisasikan model.
7.
Tahap 7 : Evaluasi
Hasil dan Mengakhiri Konseling
Dan pada tahap
terakhir ini kriteria utama keberhasilan konseling dan indikator kunci
mengakhiri proses konseling dan terapi adalah sejauh mana klien mencapai tujuan
dalam konseling maupun psikoterapi.
Daftar Rujukan :
-
Brammer,
Lawrence M, 1982, Therapeutic Psychology, Prentice Hall, Inc, Englewood Cliffs,
New Jersey
-
Prayitno. 2005.
Konseling Pancawaskita. Padang: FIP Universitas Negeri Padang.
-
Tri Hariastuti,
Retno, dkk. 2007. Keterampilan – Keterampilan Dasar dalam Konseling. Unesa
University Press
-
Geldard, Kathryn
dan Geldard, David. 2011. Keterampilan Praktik Konseling. Yogyakarta : PUSTAKA
PELAJAR.
Komentar
Posting Komentar