Topik 4 : Tipe-Tipe Konseling & Psikoterapi

 

Tipe-Tipe Konseling & Psikoterapi

 

Halo semuanya, setelah sebelumnya membahas tentang Pendekatan Konseling & Psikoterapi, kali ini saya akan membahas Tipe-Tipe Konseling & Psikoterapi. Mari kita simak berikut ini.

A.    Tipe-Tipe Konseling

Menurut Pietrofesa dkk (1978) yang dikutip oleh Mappiare (2004) tipe konseling dapat dibedakan:

1. Konseling krisis

Berdasarkan sifat situasi krisis, konselor menerima situasi dan menciptakan keseimbangan pribadi dan penguasaan diri, konselor menunjukkan sikap dasar yang meyakinkan seperti dapat meredakan kecemasan, dan menunjukkan tanggung jawabnya kepada klien melalui dukungan dan ekspresi pengharapan terhadap klien. Selain itu konselor juga memberikan intervensi langsung, dukungan, dan konseling individual ke klinik atau lembaga yang layak.

2. Konseling fasilitatif

Proses membantu klien menjadikan jelas permasalahannya, bantuan dalam pemahaman, dan penerimaan diri, penemuan rencana tindakan dalam mengatasi masalah dan melaksanakan semua itu dengan tanggung jawab sendiri.

3. Konseling preventif

Konselor dapat menyajikan informasi kepada suatu kelompok atau membantu individu mengarahkan program-program pencegahan suatu penyakit. Aktifitas yang dilakukan konselor adalah pemberian informasi, konseling individu berdasarkan isi dan proses program pencegahan.

4. Konseling developmental

Tipe konseling ini terfokus pada membantu para klien mencapai pertumbuhan pribadi yang positif dalam berbagai tahap kehidupan mereka.

Hasil konseling dapat dikategorikan dalam tiga hal sebagai berikut:

a.    Resolusi

Mencakup pencapain pemahaman atau perspektif terhadap masalah tersebut, mencapai penerimaan pribadi terhadap permasalahan atau dilema tersebut dan mengambil tindakan untuk mengubah situasi yang merupakan sumber permasalahan tersebut.

b.    Belajar

Mengikuti konseling memungkinkan seseorang untuk mendapatkan pemahaman, keterampilan, dan strategi baru yang membuat diri mereka dapat menangani masalah serupa dengan lebih baik di masa yang akan datang

c.    Inklusi sosial

Konseling menstimulasi energi dan kapasitas personal sebagai seseorang yang dapat memberikan kontribusi terhadap makhluk lain dan kepentingan sosial.

Hal-hal penting yang perlu dicakup dalam konseling adalah:

o Menjadikan kesehatan sebagai sesuatu yang bernilai dalam masyarakat.

o Membantu seseorang agar mampu mandiri dalam mengantisipasi kebutuhannya untuk menuju kehidupan sehat.

o Mendorong peningkatan penggunaan sarana pelayanan kesehatan yang optimal.

 

B.   Tipe-Tipe Psikoterapi

1.      Terapi kognitif

-          Terapi perilaku kognitif atau Cognitive Behavioural Theraphy (CBT) adalah terapi yang menganjurkan seseorang melihat dirinya sendiri dengan cara yang berbeda guna mengatasi masalah kesehatan mental, seperti depresi, Obsessive Compusive Dissorder (OCD), hingga fobia.Prinsip dari CBT ialah bahwa suatu masalah muncul dari bagaimana seseorang menginterpretasikan suatu masalah sehingga berdampak kepada tindakan dan perasaannya.

-          Manfaat : Terapi kognitif perilaku digunakan untuk membantu penderita gangguan kesehatan mental mengubah sudut pandang akan permasalahan atau situasi menantang dalam hidupnya, sekaligus cara ia bereaksi terhadap permasalahan tersebut. Selain itu, terapi kognitif perilaku juga bisa dilakukan untuk membantu penderita mencari pendekatan dan solusi masalah yang terjadi secara mandiri. Selain gangguan kecemasan dan depresi, terapi kognitif perilaku juga terbukti efektif dalam menangani gangguan kesehatan mental lainnya, seperti:

§  Fobia

§  Gangguan bipolar

§  Skizofrenia

§  Obsessive compulsive disorder (OCD)

§  Post-traumatic stress disorder (PTSD)

§  Dll.

-          Cara kerja terapi kognitif :

§   Identifikasi masalah Identifikasi situasi yang mengganggu keadaan.Misalnya kematian, kecelakaan, perceraian, atau adanya gangguan mental.Setelah itu, terapis akan membantu menemukan sumber perasaan negatif yang berperan penting dalam permasalahan yang dihadapi.

§   Fokus pada pencarian solusi Terapis membagi masalah berdasarkan beberapa faktor agar masalah menjadi lebih sederhana dan memudahkan proses pemecahan masalah.

§   Memperbaiki cara berpikir Terapis akan menganalisa efek masalah tersebut, lalu mencari pendekatan yang sesuai dengan kebutuhan, kemudian mengubah pola negatif yang ada menjadi lebih positif.

§   Setelah beberapa sesi, terapis akan membahas kembali apa saja perubahan yang sudah terjadi dan memastikan apakah tujuan sudah tercapai atau belum.

 

2.      Terapi Kelompok

-          Terapi kelompok adalah terapi yang dilakukan pada sekelompok klien Bersama-sama dengan jalan berdiskusi satu sama lain dipimpin oleh seorang terapis atau petugas Kesehatan jiwa yang terlatih (Direktorat Kesehatan Jiwa). Terapi ini dilakukan dengan cara mengumpulkan individu-individu yang mengalami masalah sejenis disatukan dalam kelompok penyembuhan dan kemudian dilakukan terapi dengan dibimbing dan didampingi oleh seorang atau tim petugas Kesehatan yang professional.

-          Indikasi Pelaksanaan Terapi Kelompok :

§  Klien Psikotik seperti kecemasan, panik, depresi ringan.

§  Klien yang mengalami stress dalam kehidupan, penyakit/kematian.

§  Klien dengan masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan.

§  Klien dengan gangguan keluarga, ketergantungan dan sejenisnya.

-          Syarat Pelaksanaan Terapi Kelompok :

§  Umumnya jumlah anggota tidak lebih dari 10 orang.

§  Klien dirawat di rumah sakit jiwa dengan observasi yang jelas.

§  Pada proses rehabilitasi : ada target kelompok dan target individu.

§  Terapis memiliki Pendidikan MN (Psychiatrik Nursing) atau Pendidikan S1 atau BSN dengan pengalaman 2 tahun dan memiliki sertifikat.

§  Komposisi terapis terdiri dari : Leader, Co. Leader, Fasilitator dan observer.

-          Proses Terapi Kelompok :

a. Tahap Intake : terjadi kontrak (persetujan/komitmen) antara petugas Kesehatan dengan klien untuk melakukan kegiatan perubahan tingkah laku melalui kelompok. Selain itu adanya kesadaran baik yang dihasilkan dari pengungkapan masalah oleh klien sendiri atau berdasakan penelaahan situasi oleh petugas Kesehatan.

b. Tahap  Asesmen dan Perencanaan Intervensi : pemimpin kelompok Bersama anggota kelompok mengidentifikasi permasalahan, tujuan kelompok serta merancang rencana tindakan pemecahan masalah.

c. Tahap Penyeleksian Anggota : Penyeleksian harus dilakukan terhadap orang-orang yang paling mungkin mendapatkan manfaat dari struktur kelompok dan keterlibatannya dalam kelompok.

d. Tahap Pengembangan Kelompok : Petugas Kesehatan harus memainkan peranan aktif dalam mendorong kelompok untuk mencapai tujuan atau harapannya.

e. Tahap Evaluasi dan Terminasi :  Evaluasi tidak selalu dilakukan pada tahap akhir suatu kegiatan. Pada tahap evaluasi terjadi pengidentifikasian atau pengukuran terhadap proses dan hasil kegiatan kelompok secara menyeluruh. Berdasarkan hasil evaluasi maka tahap terminasi dapat dilakukan.

-       Bentuk-Bentuk Terapi Kelompok :

Terapi kelompok terdiri atas beberapa bentuk, Sebagian besar berasal dari jenis-jenis terapi individu yaitu :

a.     Kelompok Eksplorasi Interpersonal

Tujuannya adalah mengembangkan kesadaran diri tentang gaya hubungan interpersonal melalui umpan balik korektif dari anggota kelompok yang lain agar pasien merasa diterima dan didukung sehingga meningkatkan harga diri pasien

b.     Kelompok Bimbingan-Inspirasi

Kelompok yang sangat terstruktur dan mendukung akan memaksimalkan nilai diskusi dalam kelompok dan persahabatan.

c.     Terapi Berorientasi Psikoanalitik

Suatu Teknik kelompok dengan struktur yang longgar, terapis melakukan interpetasi tentang konflik yang disadari pasian dan memprosesnya dari observasi interaksi antar anggota kelompok.

 

3.      Terapi Keluarga

-          Terapi keluarga merupakan bentuk bantuan untuk menangani suatu masalah dalam keluarga yang melibatkan keluarga inti untuk mencapai keseimbangan dan merasakan kebahagiaan dalam rumah tangga.

-          Tujuan Terapi keluarga

1)      Membantu anggota-anggota keluarga belajar dan menghargai secara emosional bahwa dinamika keluarga adalah kait mengait diantara anggota keluarga

2)      Membantu anggota keluarga agar menyadari tentang fakta jika satu anggota keluarga bermasalah, maka akan mempengaruhi kepada persepsi, ekspetasi, dan interaksi anggota lain.

3)      Tercapai keseimbangan yang membuat pertumbuhan dan peningkatan setiap anggota.

4)      Mengembangkan penghargaan penuh sebagai pengaruh dari hubungan parental.

-          Proses Terapi Keluarga

1)      Intake Interview, Building Working Alliance : bertujuan untuk mengeksplorasi dinamika perkembangan konseling dan anggota keluarga lainnya (pengugkapan kelemahan dan kekuatan, kesuksesan dan kegagalan, pola hubungan interpersonal, tingkah laku penyesuaian dan area masalahnya).

2)      Case Conceptualization and Treatment Planning : Mengenal masalah kemudian focus pada rencana intervensi apa yang akan dilakukan untuk penanganan masalah.

3)      Implementation : Menerapkan intervensi yang disertai dengan tugas-tugas yang dilakukan Bersama antara konselor dan keluarga. Contoh : free drawing art task (menggambar bebas yang mewakili keberadaan mereka baik).

4)      Evaluation Termination : Melakukan kegiatan penilaian apakah kegiatan konseling yang telak dilaksanakan mengarah dan mencapai hasil sesuai dengan tujuan konseling.

5)      Feedback : Memberikan dan menganalisis umpan balik untuk memperbaiki dan meningkatkan proses konseling.

 

4.    Terapi Eksistensial Humanistik

-          Menurut kartini kartono dalam kamus psikologinya mengatakan bahwa terapi eksistensial humanistik adalah salah satu psikoterapi yang menekankan pengalaman subyektif individual kemauan bebas, serta kemampuan yang ada untuk menentukan satu arah baru dalam hidup.

-          Konsep-konsep Utama Terapi Eksistensial Humanistik :

Terapi Eksistensial humanistik berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia alih alih suatu sistem teknik-teknik yang digunakan untuk mempengaruhi klien. Eksistensial humanistik berasumsi bahwa manusia pada dasarnya memiliki potensi potensi yang baik minimal lebih banyak baiknya dari pada buruknya. Terapi eksistensial humanistik memusatkan perhatian untuk menelaah kualitas-kualitas insani, yakni sifat-sifat dan kemampuan khusus manusia yang terpateri pada eksistensial manusia, seperti kemampuan abstraksi, daya analisis dan sintesis, imajinasi, kreatifitas, kebebasan sikap etis dan rasa estetika.

-          Teknik-teknik yang digunakan dalam konseling eksistensial-humanistik, yaitu:


a.       Penerimaan

b.      Rasa hormat

c.       Memahami

d.      Menentramkan

e.       Memberi dorongan

f.       Pertanyaan terbatas

g.      Memantulkan pernyataan dan perasaan klien

h.      Menunjukan sikap yang mencerminkan ikut mersakan apa yang dirasakan klien

i.        Bersikap mengijinkan untuk apa saja yang bermakna


 

5.    Terapi Psikoanalisa

-   Psikoanalisis adalah cabang ilmu yang dikembangkan oleh Sigmund Freud dan para pengikutnya, sebagai studi fungsi dan perilaku psikologis manusia. Psikoanalisis adalah sebuah model perkembangan kepribadian, filsafat tentang sifat manusia dan metode psikoterapi

 

-   Konsep Utama Terapi Psikoanlisa

1)        Struktur Kepribadian

-       Id ( keinginan untuk meraih kepuasan dan mementingkan prinsip kesenangan)

-       Ego (berperan dalam pengambilan keputusan dengan menjadi penyeimbang antara keinginan/id dengan prinsip ideal/superego

-       Superego ( prinsip ideal atau nilai-nilai kebaikan dalam pribadi)

2)        Kesadaran dan ketidaksaran

3)        Kecemasan

 

-          Tujuan Terapi Psikoanalisa

1)        Membentuk Kembali struktur karakter individu dengan jalan membuat kesadaran yang tidak disadari di dalam diri klien.

2)        Focus pada upaya mengalami Kembali pengalaman masa anak-anak.

3)        Mengungkapkan konflik-konflik yang dianggap mendasari munculnya ketakutakn yang ekstrem dan reaksi menghindar yang menjadi karakteristik gangguan ini.

 

-          Teknik Dasar Terapi Psikoanalisa

1)        Asosiasi Bebas : Klien dipersilahkan mengemukakan apa saja yang terlintas dalam jiwanya tidak peduli hal itu remeh, memalukan, tidak logis ataupun kabur.

2)        Analisis Mimpi : Ketika tidur kontrol kesadaran terhadap ketidaksadaran menjadi lemah sehingga ketidaksadaran muncul kepermukaan dalam bentuk mimpi. Dengan memahami makna mimpi berarti dapat dipahami apa saja konflik yang terjadi.

3)        Freudian Slips : gejala salah ucap, salah membaca, salah dengar salah meletakkan objek, dan tiba-tiba lupa. Gejala ini bukan kebetulan tetapi berhubungan erat dengan ketidaksadaran. Dengan menganalisis gejala tersebut akan terungkap gambaran mental yang ada dibaliknya.

4)        Interpretasi : mengenalkan kepada klien maknda yang tidak disadari dari pikiran, perasaan dan keinginannya.

5)        Analisis resistensi : mekanisme pertahanan klien untuk tidak mengungkapkan topik tertentu karena alasan tertentu pula. Dengan menganalisis hal yang disembunyikan klien akan diperoleh informasi penting tentang masalah yang pernah dialami klien.

6)        Tranferensi : Pengungkapan ketidaksadaran yang tersimpan sejak masa kanak-kanak dengan memakai terapis sebagai medianya.

7)        Pengulangan : tindakan mengintepretasi dan mengidentifikasi masalah klien, mengulang resistensi dan transferensi pada seluruh aspek pengalaman kejiwaan. Tindakan ini dilakukan secara berulang-ulang sampai terapi menemukan akar permasalahan penyebab gangguan pada pasien.

 

6.    Terapi Behavioral

-       Terapi behavior adalah salah satu teknik yang digunakan dalam menyelesaikan tingkah laku yang ditimbulkan oleh dorongan dari dalam dan dorongan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidup, yang dilakukan melalui proses belajar agar bisa bertindak dan bertingkah laku lebih efektif, lalu mampu menanggapi situasi dan masalah dengan cara yang lebih efektif dan efisien.

-       Tujuan Terapi Behavioral :

Terapi behavioral  memfokuskan pada persoalan-persoalan perilaku spesifik atau perilaku menyimpang yang bertujuan untuk menciptakan kondisi-kondisi baru bagi proses belajar dengan dasar bahwa segenap tingkah laku itu dipelajari, termasuk tingkah laku yang maladaptif.

-       Hakikat Manusia dalam Terapi Behavioral :

Hakikat manusia dalam pandangan para behaviorist adalah pasif dan mekanistis. Manusia dianggap sebagai sesuatu yang dapat dibentuk dan diprogram sesuai dengan keinginan lingkungan yang membentuknya. Perilaku manusia adalah efek dari lingkungan dan pengaruh yang paling kuat. Maka hal itulah yang akan membentuk diri individu.

-       Teknik-teknik Terapi Behavioral

Untuk mencapai tujuan dalam proses konseling diperlukan teknik-teknik yang digunakan untuk pengubahan perilaku. Beberapa tekniknya sebagai berikut:


Ø  Desensitisasi Sistematis

Desensitisasi sistematis merupakan teknik relaksasi yang digunakan untuk menghapus perilaku yang diperkuat secara negatif, biasanya berupa kecemasan, dan menyertakan respon yang berlawanan dengan perilaku yang akan dihilangkan dengan cara memberikan stimulus yang secara perlahan dan santai.

Ø  Terapi Implosif

Terapi Implosif dikembangkan atas dasar pandangan tentang seseorang yang secara berulang-ulang dihadapkan pada situasi kecemasan dan konsekuensi-konsekuensi yang menakutkan ternyata tidak muncul, maka kecemasan akan hilang. Atas dasar itu klien diminta untuk membayangkan stimulus-stimulus yang menimbulkan kecemasan.

Ø  Latihan Perilaku Asertif

Latihan perilaku asertif digunakan untuk melatih individu yang mengalami kesulitan untuk menyatakan dirinya bahwa tindakannya layak atau benar.

Ø  Pengkondisian Aversi

Teknik pengkondisian diri digunakan untuk meredakan perilaku simptomatik dengan cara menyajikan stimulus yang tidak menyenangkan, sehingga perilaku yang tidak dikehendaki tersebut terhambat kemunculannya.

Ø  Pembentukan Perilaku Model

Perilaku model digunakan untuk membentuk perilaku baru pada klien, memperkuat perilaku yang sudah terbentuk dengan menunjukkan kepada klien tentang perilaku model, baik menggunakan model audio, model fisik, atau lainnya yang dapat diamati dan dipahami jenis perilaku yang akan dicontoh.

Ø  Kontrak Perilaku

Kontak perilaku adalah persetujuan antara dua orang atau lebih (konselor dan klien) untuk mengubah perilaku tertentu pada klien. Dalam terapi ini konselor memberikan ganjaran positif yang penting dibandingkan memberikan hukuman jika kontrak tidak berhasil.

Ø  Token Ekonomi


                        Token ekonomi dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku apabila persetujuan dan pemerkuat yang tidak bisa diraba lainnya tidak memberikan pengaruh. Dalam token ekonomi, tingkah laku yang layak bisa diperkuat dengan perkuatan yang nyata yang nantinya bisa ditukarkan dengan objek atau hak istimewa yang diinginkan. Tujuan prosedur ini adalah mengubah motivasi yang ekstrinsik menjadi motivasi yang intrinsik. Diharapkan bahwa perolehan tingkah laku yang diinginkan akhirnya dengan sendirinya akan menjadi cukup mengganjar untuk memelihara tingkah laku yang baru.

 

 

 

Daftar Rujukan :

-       Surya Muhammad. 2007. Psikologi Konseling. Bandung: CV. Pustaka Bani Quraisy

-       AT, Andri Mappiare. 2006. Pengantar Konseling & Psikoterapi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.

-       Soemadji dan Hartono. 2012. Psikologi Konseling. Jakarta: Kencana Predana Media Group

-       https://dosenpsikologi.com/macam-macam-terapi-dalam-psikologi

-       https://ramaniya.id/terapi-behavioral/

-       https://www.sehatq.com/tindakan-medis/terapi-perilaku-kognitif

-       https://dosenpsikologi.com/jenis-terapi-konseling

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Topik 5 : Mikroskill serta Tahapan-Tahapan dalam Konseling & Psikoterapi

Topik 2 : Faktor Pendukung dan Penghambat Konseling & Psikoterapi - SaifulRizal257